Friday, October 21, 2022
Best Practice PJOK
LK 3.1. Menyusun Best Practices
Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star
(Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)
Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran
Lokasi : SMP Negeri 1 Kambera
Lingkup Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Tujuan yang ingin dicapai :
Meningkatkan kualitas pembelajaran PJOK dan motivasi belajar peserta didik dengan
Pendekatan Saintifik berbasis HOTS dan Model PBL berbasis ICT dan TPACK
Penulis : Hendra Kadu Praing, S.Pd
Tanggal : 26 September 2022
Situasi:
Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang
menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.
1. Kondisi yang menjadi latar belakang masalah
Praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, hanya menggunakan buku yang tersedia di perpustakaan dan hanya berdasarkan pengalaman saya pribadi. Namun, dalam praktik, penulis mengalami kendala atau kesulitan, dimana materi dan tugas yang diberikan tidak sesuai dengan karakteristik dan latar belakang siswa. Penulis cenderung fokus pada penilaian ranah kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir siswa masih terbatas dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Penulis selaku guru, kurang optimal menerapkan atau melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills (HOTS). Penulis jarang menggunakan media pembelajaran apalagi media berbasis ICT. Dampaknya adalah suasana pembelajaran di kelas menjadi monoton atau kaku dan siswa terkesan kurang berminat dan kurang termotivasi dalam belajar.
Menghadapi era Revolusi Industri 4.0, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial
dari materi yang dipelajarinya. Dalam PBL siswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, bahwa PBL membelajarkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Peralihan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ke pembelajaran tatap muka (PTM) membuat kualitas pembelajaran PJOK dan motivasi belajar siswa menurun. Oleh karena itu, siswa merasa bosan pada saat pembelajaran di kelas karena terbiasa bermain di rumah saat pembelajaran jarak jauh.
Setelah berproses dalam Pendidikan Profesi Guru, saya mendapatkan perubahan cara berpikir tentang bagaimana semestinya menjadi guru yang profesional dalam memecahkan permasalahan belajar di sekolah. Dalam program PPG ini kami dibimbing, dilatih dan dibentuk menjadi lebih profesional dalam menjalankan tugas pengajaran, yakni dilatih atau dibimbing mengidentifikasi masalah, mengeksplorasi masalah, melakukan kajian literatur dan wawancara, menentukan alternatis solusi, memilih masalah terpilih, sampai pada kegiatan merencanakan pembelajaran, pelaksanaan rencana aksi dan rencana evaluasi, refleksi dan rencana tindak lanjut.Mengacu pada perencanaan pembelajaran yang tergambar dalam perangkat pembelajaran inovatif yang telah dirancang, saya dapat menerapkan pendekatan saintifik berbasis HOTS dan model PBL berbasis ICT dan TPACK saat praktik pembelajaran inovatif (PPL).
2. Praktik ini penting dibagikan
Praktik baik pembelajaran ini, sangat penting untuk dibagikan karena :
a. Praktik baik ini dapat memotivasi saya sendiri untuk mendesain pembelajaran yang kreatif dan inovatif,
b. Praktik baik ini bisa memotivasi guru lain dalam hal mendesain pembelajaran yang kreatif dan inovatif,
c. Praktik baik ini dapat menjadi referensi dan inspirasi guru-guru lain bagaimana cara mengatasi permasalahan pembelajaran.
3. Peran dan tanggung jawab saya dalam kegiatan praktik pembelajaran
Adapun peran dan tanggung jawab saya selaku guru dalam praktik pembelajaran ini adalah bertanggung jawab dalam mendesain pembelajaran yang inovatif, menantang dan menyenangkan menggunakan pendekatan, model pembelajaran, dan media pembelajaran yang sesuai karakteristik peserta didik dan karakteristik materi, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif. Dengan efektifnya penggunaan pendekatan, model dan media pembelajaran yang inovatif, tentu dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PJOK, motivasi dan hasil belajar peserta didik..
Tantangan :
Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut?
Siapa saja yang terlibat,
1. Mengacu pada latar belakang permasalahan di atas, adapun yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan, yaitu :
Adanya keraguan apakah pendekatan saintifik berbasis HOTS dan model pembelajaran problem based learning (PBL) serta media pembelajaran berbasis ICT dan TPACK dapat berjalan efektif atau sebaliknya, adanya kekhawatiran penggunaan media pembelajaran berbasis ICT dan TPACK sudah sesuai atau belum dengan karakteristik peserta didik dan karakteristik materi pembelajaran mampu meningkatkan motivasi peserta didik mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan tantangan di atas, tantangan yang dihadapi melibatkan peran guru dalam hal kompetensi yang harus dimiliki guru yaitu: kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Sementara dari sisi peserta didik yaitu keaktifan dan motivasi belajar peserta didik.
2. Pihak yang terlibat dalam kegiatan
Pihak yang terlibat dalam kegiatan adalah peserta didik kelas VIII B, rekan sejawat, kepala sekolah.
Aksi :
Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/
strategi apa yang digunakan/bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya
atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini
1. Langkah-langkah untuk menghadapi tantangan,
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi tantangan, yaitu :
Saya melakukan identifikasi masalah, eksplorasi penyebab masalah, penentuan penyebab masalah, penentuan solusi, kemudia pengembangan perangkat pembelajaran, pelaksanaan aksi atau praktik,evaluasi, refleksi dan rencana tindak lanjut
2. Strategi yang dilakukan guru dalam pemilihan model pembelajaran inovatif dengan memahami karakteristik peserta didik dan karakteristik materi pelajaran.
Adapun pendekatan, model pembelajaran inovatif dan media pembelajaran yang dipilih yaitu Pendekatan saintifik berbasis HOTS, model Problem Based Learning (PBL) TPACK dan media pembelajaran berbasis ICT.
Proses pemilihan strategi ini yaitu: mempelajari pendekatan, model-model pembelajaran inovatif dan media pembelajaran melalui kajian literatur, mempelajari kemampuan awal dan gaya belajar peserta didik serta mempelajari karakteristik materi.
3. Proses,
Proses diawali dari identifikasi masalah, eksplorasi penyebab masalah, penentuan penyebab masalah, pengembangan perangkat pembelajaran, pelaksanaan aksi atau praktik,evaluasi, refleksi dan rencana tindak lanjut.
4. Pihak yang terlibat dalam kegiatan ini Pihak yang terlibat dalam kegiatan adalah peserta didik kelas VIII B, rekan sejawad, dankameramen.
5. Sumber daya yang diperlukan adalah untuk melaksanakan strategi
Sumber daya yang diperlukan dalam melaksanakan strategi ini diantaranya :
1 set perangkat pembelajaran yang terdiri dari; RPP, bahan ajar, LKPD, media pembelajaran dan instrumen penilaian.
Dengan kata lain, yang diperlukan sebagai sumber daya adalah kompetensi dan kreatifitas guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran berupa RPP, bahan ajar, LKPD, media pembelajaran dan instrument penilaian yang berpusat pada aktifitas peserta didik.
Refleksi Hasil dan dampak
Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan?
Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif? Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut
1. Dampak dari aksi yang dilakukan
Dampak dari penerapan pendekatan saintifik berbasis HOTS dan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis ICT dan TPACK, membuat siswa lebih bersemangat dan tidak bosan dalam pembelajaran, karena pada saat pembelajaran siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang heterogen serta secara berkelompok siswa berdiskusi menemukan solusi atas permasalahan yang ditemui, mempresentasikan hasil diskusi sebagai solusi dari permasalahan, menjawab pertanyaan yang diberikan guru atau teman dalam kelompok yang berbeda.
Dengan pendekatan saintifik berbasis HOTS dan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis ICT dan TPACK, siswa lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran dan berdampak pada pembelajaran lebih berkualitas, hal ini dapat terlihat dari indikator keaktifan siswa mengalami peningkatan dari sebelum menggunakan pendekatan saintifik berbasis HOTS dan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis ICT dan TPACK.
2. Hasilnya menunjukkan progresifitas positif dan sangat efektif, namun perlu didukung dengan fasilitas atau sarana dan prasarana yang memadai, pemilihan metode, pendekatan, model dan media yang tepat atau sesuai karakteristik siswa, materi dan karakteristik lingkungan belajar. Selain itu dibutuhkan kesadaran dan komitmen dari guru untuk terus berinovasi secara berkelanjutan demi penyelesaian setiap permasalahan pembelajaran yang dihadapi.
Dengan kata lain bahwa adanya signifikansi peningkatan motivasi belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, berdampak pula pada meningkatnya hasil belajar siswa, serta makin berkualitasnya pembelajaran PJOK.
3. Respon peserta didik
Tanggapan peserta didik terhadap strategi yang diimplementasikan oleh guru adalah peserta didik merasa sangat senang, antusias, aktif dalam pembelajaran. Alasannya karena sangat membantu peserta didik melakukan identifikasi, memehami, menganalisis dan mendemonstrasikan pengetahuannnya. Hal ini dapat terlihat saat peserta didik berdidkusi, mencari dan menemukan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi, mampu mempraktekkan serta dapat membuat refleksi dan menarik sebuah kesimpulan atas pembelajaran yang mereka ikuti.
4. Faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi.
Kegiatan praktik pembelajaran telah sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang sudah didesain sebelumnya. Kendati masih terdapat beberapa kelemahan dalam pengimplementasiannya, namun strategi ini ternyata dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, motivasi dan hasil belajar peserta didik.
Penulis meyakini bahwa tidak ada keberhasilan yang diraih secara instan. Suatu keberhasilan yang diraih dengan cara instan biasanya tidak teruji. Harus adanya ikhtiar yang berkelanjutan dan terbarukan agar keberhasilan itu dapat teruji dan diakui.
5. Pembelajaran dari keseluruhan proses yang dapat diambil
Meningkatnya kualitas pembelajaran PJOK dan motivasi belajar siswa dengan diterapkannya pembelajaran inovatif berupa pendekatan saintifik berbasis HOTS dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis ICT dan TPACK, maka penulis dapat merekomendasikan bahwa : Pentingnya implementasi atau penerapanpendekatan saintifik berbasis HOTS dan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis ICT dan TPACK dalam pembelajaran secara umum maupun dalam pembelajaran PJOK secara khusus sebagai alternatif solusi dari pemecahan kompleksitas permasalahan pembelajaran yang ditemui atau dialami di kelas atau sekolah.
Thursday, August 26, 2021
Saturday, April 25, 2020
Guru, Antara Profesi dan Panggilan Hati
Profesi dan Panggilan Hati
| Panggilan hati, jiwa dan hidup itu sifatnya "SUCI", MULIA |
Mari kita coba khilas balik, bandingkan dengan anggota DPR, DPRD dan DPD menuntut kenaikan gaji sampai puluhan juta (Rp) setiap bulan, pernahkah tuntutan mereka dikaitkan dengan panggilan hati, jiwa dan hidupnya?
Cara pandang seperti itu yakni mendikotomi antara profesi dan Panggilan akan membawa penilaian bahwa yang berkaitan dengan panggilan hati, jiwa dan hidup itu sifatnya "SUCI", MULIA. Sementara Pekerjaan tanpa panggilan hati, jiwa dan hidup sebagai DUNIA, PROFAN, atau derajadnya RENDAH.
Menempatkan guru sebagai panggilan hati, jiwa dan hidup, terkesan bahwa seakan guru merupakan kelompok masyarakat yang melakukan pekerjaan terhormat, bernilai, dan agung dalam mendidik bangsanya. Akan tetapi, atas keringat dan jerih payahnya itu mereka mesti menerima apa adanya. Tidak perlu banyak menuntut atau mengharapkan sesuatu yang lebih daripada yang mereka dapatkan sekarang. Guru tidak usah mengeluh bila daya beli gajinya rendah karena jumlah dan tingkat kenaikan gajinya tidak akan mampu mengimbangi inflasi dan depresiasi (penyusutan nilai "uang"). Tidak perlu juga menangis bila kenaikan harga multi kebutuhan juga turut mengempaskan situasi finansial keluarganya.
Tugas Guru Haruslah sebagai Panggilan Bercirikan ;
Pertama, Pekerjaan itu menjadikan orang lain menjadi semakin lebih baik dan bahkan sempurna.
Kedua, Memberikan kebahagiaan kepada diri sendiri
"Tetap Menjadi Guru atau Mundur"
"Take It Or Leave It"
Mendikotomi pekerjaan dan panggilan guru dalam konteks perbincangan UU guru jangan sampai menyurutkan atau mendistorsi upaya perlindungan pada profesi guru. Dalam sudut pandang birokrasi pemerintah, guru dipandang sebagai mesin birokrasi pendidikan di tingkat sekolah. Guru dipandang sebagai kepanjangan tangan birokrasi, karena itu sikap dan tingkah lakunya mesti sepenuhnya tunduk pada ketentuan-ketentuan birokrasi. Ironi dalam realitasnya guru diperlakukan ibarat bawahan atau staf, sementara pertimbangan kelayakan profesi begitu kompleks atau sulit diperhatikan.
Sebagai penutup, bicara soal kelayakan profesi guru dengan segala kecukupan finansialnya yang menjadi tanggung jawab pemerintah bukanlah karena pemerintah tidak mampu, tetapi sekedar belum memiliki will dalam merealisasikannya !.
Friday, April 3, 2020
Trik Lolos SKB CPNS Guru
Untuk Guru
Pelajari Modul dan Materi UKG dan PPG sesuai Spesifikasi Keilmuan Masing-masing
Semoga Bermanfaat
Pelajari Modul dan Materi UKG dan PPG sesuai Spesifikasi Keilmuan Masing-masing
Semoga Bermanfaat
Friday, March 27, 2020
#Basmi #Kejahatan
Hancurkan dinasti kejahatan,
kau kan dikenang
Meski kau sadar kenangmu berbuah onak dan duri
Penjahat memusuhimu
Ruangmu gerakmu dibatasi
Harga dirimu dihina
Jiwa dan ragamu dikoyak
Jangan berhenti membasmi kejahatan
Tetaplah galak, jangan pesimis
Teruslah menerkam, karena nuranimu sadar bahwa masih ada ruang untuk berbuat baik dan benar, yakni memberantas kejahatan.
Apalagi perjuangan itu untuk menyelamatkan mereka yang tak berdaya
Apalagi perjuangan itu untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama
#pesanmoralbagiparapejuangkebenaran
#tidakpeduliapapunprofesinya
#tetaplahpadajalurperjuanganuntukkebaikandankebenaran
#SalamHormat
#AnakKampung
Hancurkan dinasti kejahatan,
kau kan dikenang
Meski kau sadar kenangmu berbuah onak dan duri
Penjahat memusuhimu
Ruangmu gerakmu dibatasi
Harga dirimu dihina
Jiwa dan ragamu dikoyak
Jangan berhenti membasmi kejahatan
Tetaplah galak, jangan pesimis
Teruslah menerkam, karena nuranimu sadar bahwa masih ada ruang untuk berbuat baik dan benar, yakni memberantas kejahatan.
Apalagi perjuangan itu untuk menyelamatkan mereka yang tak berdaya
Apalagi perjuangan itu untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama
#pesanmoralbagiparapejuangkebenaran
#tidakpeduliapapunprofesinya
#tetaplahpadajalurperjuanganuntukkebaikandankebenaran
#SalamHormat
#AnakKampung
Sunday, November 25, 2018
Sunday, November 18, 2018
PEMIMPIN EFEKTIF DAN IDEAL
PEMIMPIN EFEKTIF DAN IDEAL
![]() |
| PEMIMPIN EFEKTIF DAN IDEAL |
Rumusan alternatif pemimpin efektif dan ideal secara garis besar mereka yang memiliki Visibilitas, Integritas Moral, Kredibilitas, Akseptabilitas,dan Kapabilitas. Karekteristik pemimpin efektif dan ideal tersebut dapat dideskripsikan berikut ini :
- Pemimpin yang memiliki visibilitas adalah pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas. Visi dan misi akan dapat dilihat melalui program yang diajukan. Program dimaksud harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Fisibel, realistis, kompetitif, prospektif, praktis / fungsional, humanis, akuntabel, dan rasional. Semua syarat itu harus dipertimbangkan dengan cermat dan teliti oleh calon pemimpin, sebelum dan pada saat menyusun dan merancang suatu program. Suatu program dikatakan fisibel (feasible) jika dapat dijalankan, dikerjakan, dan diselesaikan (operasional). Suatu program dikatakan realistis dalam arti bukan atas dasar hasil pemikiran yang terlintas sesaat, tetapi berdasarkan hasil kajian/ studi kelayakan dalam waktu yang relatif lama, mendalam, dan komprehensif. Suatu program dikatakan kompetitif jika program tersebut mampu bersaing dan mampu menunjukkan kelebihan atau keunggulan jika dibandingkan dengan program-program kompetitor lainnya.
- Integritas Moral Figur pemimpin akan mampu bekerja mengacu pada nilai-nilai moral spiritual. Pemimpin akan mengaktualisasikan, mengimplementasikan, mengaplikasikan, dan meginternalisasikan nilai-nilai tersebut di segala bidang kehidupan. Hal itu tercermin dalam sikap laku, tindak tanduk, budi bahasa, dan amal perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah sosok pemimpin yang rasional, jujur, adil, berwibawa, rendah hati, merakyat, tahan kritik, tidak emosional, dan tidak korup.
- Kredibilitas Pemimpin yang kredibel adalah pemimpin yang dapat dipercaya dan berpegang teguh pada janji. Janji adalah hutang dan sumpah yang tidak hanya harus mereka pertanggungjawabkan kepada rakyat, tetapi yang lebih penting harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Pemimpin yang memiliki integritas moral dan kreadibilitas tidak pernah terlibat skandal, kriminal, ataupun masalah-masalah yang terkait dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
- Akseptabilitas Kategori akseptabilitas seorang pemimpin daapat terukur; jika ia dapat diterima dan mampu bekerja sama (hal yang positif) dengan berbagai elemen, kelompok, golongan manapun. Pemimpin tidak boleh : Xenophobis, tidak Sectarian, tidak Eksklusif, tidak Etnosentris, tidak Chauvinis, dan terbuka terhadap relitas bahwa dunia kehidupan adalah beragam (multicultural) Pemimpin tidak Xenopobis jika dia tidak merasa takut, khawatir, curiga terhadap kedatangan dan keberadaan orang, suku, maupun bangsa lain di daerahnya, sepanjang mereka memiliki komitmen terhadap kemajuan dan pembangunan daerah yang mereka datangi ataupum mereka tempati. Pemimpin tidak Ekslusif jika dia tidak menjadikan keluarga, kelompok, golongan, partai, dan sukunya sebagai keluarga, kelompok, golongan, partai, ataupun suku yang harus mendapatkan perlakuan khusus maupun istimewa. Pemimpin tidak Sektarian jika ia tidak membedakan-bedakan, tidak memilah memilih orang berdasarkan atas: sekeluarga atau tidak, sekelompok atau tidak, segolongan atau tidak, dan dst. Pemimpin yang tidak sektarian dan tidak eksklusif; akan memperlakukan semua sama, tidak pandang dari elemen, kelompok, dan golongan manapun. Jika diharuskan untuk memilah atau memilih, dia akan tetap berpedoman pada prinsip-prinsip kompetensi, profesionalitas, dan The Man On The Right Place. Pemimpin tidak Etnosentris jika ia memiliki semangat dan daya juang untuk melawan dan memberantas segala bentuk fanatisme kedaerahan dan kesukuan yang sempit yang biasa mencederai semangat kesatuan, persatuan dan ke-Bhineka Tunggal Ikaan bangsa. Pemimpin tidak Chauvinis jika ia tidak mengutamakan, memprioritaskan, dan mengistimewakan kelompok, golongan, suku, ataupun rasnya, dan memandang rendah kelompok, golongan, suku, ataupun ras lainnya.
- Kapabilitas Pemimpin dikategorikan memiliki kapabilitas jika ia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, serta memiliki kecakapan, keterampilan, dan kecerdasan. Jacobs, dkk (2012:25): pemimpin yang efektif dan ideal memiliki kepribadian yang caring, openness, flexibility, warmth, objectivity, truthworthiness, honesty, strength, patience, dan sensitivity.
Ciri lainnya adalah bahwa pemimpin tersebut nyaman dengan diri sendiri dan orang lain, meliputi nyaman dengan posisi sebagai pemegang otoritas, percaya diri dengan kemampuannya untuk memimpin, dan kemampuan untuk mendengarkan perasaan, reaksi, mood, dan kata-kata orang lain. Hal terpenting lainnya adalah memiliki kesehatan psikologis.
Jika anda inginkan Pemimpin Efektif dan Ideal, jadilah pribadi pencerah yang baik dan benar bagi orang-orang disekitarmu dan masyarakat umumnya. Jangan berikan peluang kepada calon pemimpin karbitan instan transaksional demi kemaslahatan daerah dan bangsamu. !!!
Penulis adalah Praktisi Pendidikan, Pengajar di SMP Kristen Payeti - Waingapu - Sumba Timur
Label:
PEMIMPIN EFEKTIF DAN IDEAL
PENILAIAN PRODUK DAN PROYEK
PENILAIAN PRODUK DAN PROYEK
Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan, dan kemampuan menginformasikan dari peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.
Dalam penilaian proyek ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan yaitu :
a) Kemampuan pengelolaan; kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta pengumpulan laporan
b) Relevansi : keseuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahamn dan keterampilan dalam pembelajaran.
c) Keaslian; proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
Instrumen penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Sehubungan dengan itu guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyususnan desain, pengumpulan data, analisa data dan penyiapan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.
Penialaian Produk
Penialian produk adalah penilaian terhadap poses pembentukan dan kualitas produk. Penilaian ini meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi, seni. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu :
a) Tahap persiapan, meliputi penilsisn kemampuan peserta didik dalam merencanakan,menggali danmengembangkan gagasan serta mendesain produk.
b) Tahap penilaian, meliputi menilai kemampuan siswa membuat produk sesuai kegunaannya, memenuhi kriteria keindahan/presisi dan sebagainya.
Tenik penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik :
a) Cara analitik yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan (tahap persiapan, pembuatan produk dan penilaian produk).
b) Cara holistik yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan hanya pada tahap penilaian produk.
PERAN SOAL HOTS DALAM PENILAIAN
PERAN SOAL HOTS DALAM PENILAIAN
A. Penilaian
Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan pada pendidikan
dasar dan pendidikan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh
pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian hasil
belajar oleh Pemerintah.Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk
memantau dan mengevaluasi proses,kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar
peserta didik secara berkesinambungan.
Penilaian hasil belajar oleh satuan
pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian
Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran.Penilaian hasil
belajar peserta didik meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan dan
teknik penilaian lain yangrelevan, dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali
kelas atau guru kelas. Penilaian aspekpengetahuan dilakukan melalui tes
tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensiyang dinilai.
Penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio,
dan atau tehbnik lain sesjuai dengan kompetensi yang dinilai. Penilaian hasil
belajar oleh pendidik dilakukan dalam bentuk ulangan, pengamatan,
penugasan,dan/atau bentuk lain yang diperlukan. Penilaian hasil belajar oleh
satuan pendidikan dilakukandalam bentuk penilaian akhir dan ujian sekolah.
B. Peran Soal HOTS dalam Penilaian
Soal-soal HOTS bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir
tingkat tinggi.Dalammelakukan Penilaian, guru dapat menyisipkan beberapa
butir soal HOTS. Berikut dipaparkan beberapa peran soal-soal HOTS dalam
meningkatkan mutu Penilaian.
1.
Mempersiapkan kompetensi peserta didik menyongsong
abad ke-21
Penilaian yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan diharapkan dapat
membekali peserta didik untuk memiliki sejumlah kompetensi yang dibutuhkan pada
abad ke-21. Secara garis besar, terdapat 3 kelompok kompetensi yang dibutuhkan
pada abad ke-21 (21st century skills) yaitu: a) memiliki karakter
yang baik (beriman dan taqwa, rasa ingin tahu, pantang menyerah, kepekaan
sosial dan berbudaya, mampu beradaptasi, serta memiliki daya saing yang
tinggi); b) memiliki sejumlah kompetensi (berpikir kritis dan kreatif, problem
solving, kolaborasi, dan komunikasi); serta c) menguasai literasi mencakup
keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak,
visual, digital, dan auditori.
Penyajian soal-soal HOTSdalam Penilaian dapat melatih peserta
didik untuk mengasah kemampuan dan keterampilannya sesuai dengan tuntutan
kompetensi abad ke-21 di atas. Melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS,
keterampilan berpikir kritis (creative thinking and doing), kreativitas
(creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan
dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata
dalam kehidupan sehari- hari (problem-solving).
2.
Memupuk rasa cinta dan peduli terhadap kemajuan daerah
Dalam Penilaian guru diharapkan dapat mengembangkan soal-soal HOTS secara
kreatif sesuai dengan situasi dan kondisi di daerahnya
masing-masing.Kreativitas guru dalam hal pemilihan stimulus yang berbasis permasalahan
daerah di lingkungan satuan pendidikan sangat penting.Berbagai permasalahan
yang terjadi di daerah tersebut dapat diangkat sebagai stimulus
kontekstual.Dengan demikian stimulus yang dipilih oleh guru dalam
soal-soal HOTSmenjadi sangat menarik karena dapat dilihat dan
dirasakan secara langsung oleh peserta didik.Di samping itu,
penyajian soal-soal HOTS dalam ujian sekolah dapat
meningkatkan rasa memiliki dan cinta terhadap potensi-potensi yang ada di
daerahnya.Sehingga peserta didik merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian
untuk memecahkan berbagai permasalahan yang timbul di daerahnya.
3.
Meningkatkan motivasi belajar peserta didik
Pendidikan formal di sekolah hendaknya dapat menjawab tantangan di
masyarakat sehari- hari.Ilmu pengetahuan yang dipelajari di dalam
kelas, agar terkait langsung dengan pemecahan masalah di masyarakat.Dengan
demikian peserta didik merasakan bahwa materi pelajaran yang diperoleh di dalam
kelas berguna dan dapat dijadikan bekal untuk terjun di
masyarakat.Tantangan-tantangan yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan
stimulus kontekstual dan menarik dalam Penilaian, sehingga munculnya
soal-soal berbasis soal-soal HOTS, yang diharapkan
dapat menambah motivasi belajar peserta didik.
4.
Meningkatkan mutu Penilaian
Penilaian yang berkualitas akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Dengan membiasakan melatih siswa untuk menjawab soal-soal HOTS, maka diharapkan
siswa dapat berpikir secara kritis dan kreatif. Ditinjau dari hasil yang
dicapai dalam US dan UN, terdapat 3 kategori sekolah yaitu: (a) sekolah unggul,
apabila rerata nilai US lebih kecil daripada rerata UN; (b) sekolah biasa,
apabila rerata nilai US tinggi diikuti dengan rerata nilai UN yang tinggi dan
sebaliknya nilai rerata US rendah diikuti oleh rerata nilai UN juga rendah; dan
(c) sekolah yang perlu dibina bila rerata nilai US lebih besar daripada rerata
nilai UN.
Masih banyak satuan pendidikan dalam kategori sekolah yang perlu
dibina.Indikatornya adalah rerata nilai US lebih besar daripada rerata nilai
UN. Ada kemungkinan soal-soal buatan guru
level kognitifnya lebih rendah daripada soal-soal pada UN. Umumnya
soal-soal US yang disusun oleh guru selama ini, kebanyakan hanya mengukur level
1 dan level 2 saja. Penyebab lainnya adalah belum disisipkannya soal-soal HOTS dalam
US yang menyebabkan peserta didik belum terbiasa mengerjakan soal-soal HOTS.
Di sisi lain, dalam soal-soal UN peserta didik dituntut memiliki kemampuan
mengerjakan soal-soal HOTS. Setiap tahun persentase soal-soal HOTS yang
disisipkan dalam soal UN terus ditingkatkan. Sebagai contoh pada UN tahun
pelajaran 2015/2016 kira-kira terdapat 20% soal-soal HOTS. Oleh
karena itu, agar rerata nilai US tidak berbeda jauh dengan rerata nilai UN,
maka dalam penyusunan soal-soal US agar disisipkan soal-soal HOTS.
FORMAT KISI-KISI SOAL HOTS PJOK
FORMAT KISI-KISI SOAL HOTS
Mata Pelajaran :
PJOK
Kelas/Semester : VII
Guru Mapel : Hendra K. Praing, S.Pd
No.
|
Kompetensi Dasar
|
IPK
|
Materi
|
Kelas/ Semester
|
Indikator
Soal
|
Level
Kognitif
|
Bentuk Soal
|
No. Soal
|
1
|
Memahami
gerak spesifik dalam berbagai permainan bola besar sederhana dan atau
tradisional
|
|||||||
No.
|
Kompetensi Dasar
|
Materi
|
Kelas/ Semester
|
Indikator
Soal
|
Level
Kognitif
|
Bentuk Soal
|
No. Soal
|
Waingapu, Agustus 2018
Guru Mata Pelajaran
Hendra
K. Praing, S.Pd
NIP. -
Subscribe to:
Comments (Atom)


